JAKARTA, MAHAGANEWS.– Situasi di pusat ibu kota Jakarta mendadak tegang pada Jumat (12/6/2026). Ribuan mahasiswa dari berbagai penjuru, termasuk aliansi BEM SI dan BEM UI, tumpah ke jalan menggelar aksi unjuk rasa besar-besaran. Imbas pelemahan ekonomi global dan domestik, massa kini menyuarakan mosi tidak percaya lewat gerakan “Reformasi Jilid 2”.
Pantauan di lapangan, aparat keamanan gabungan dari unsur TNI dan Polri langsung menetapkan status siaga satu di sejumlah titik vital negara. Barikade kawat berduri dan kendaraan taktis tampak disiagakan guna mengantisipasi eskalasi massa yang terus memuncak.
Jalur Bundaran HI Ditutup, Massa Dialihkan
Mengantisipasi kelumpuhan total pada urat nadi perekonomian ibu kota, petugas kepolisian melakukan penyekatan ketat di kawasan Bundaran Hotel Indonesia (HI). Arus massa yang mengalir deras sejak siang hari akhirnya dialihkan ke dua titik konsentrasi utama.
“Kami alihkan demi menjaga ketertiban umum dan roda ekonomi tetap berputar,” ujar salah satu petugas di lapangan.
Saat ini, titik utama demonstrasi berpusat di depan Gedung DPR/MPR RI dan kawasan Patung Kuda, Monas. Gelombang manusia berpakaian serba hitam dan berjaket almamater tampak memadati jalan protokol sembari membentangkan spanduk bertuliskan kritik keras, seperti #MenujuIndonesiaBangkrut dan “Turut Berduka Cita atas Matinya Rupiah”.
Ultimatum Serius Mahasiswa: Stabilkan Kurs atau Segel Kemenkeu
Ketegangan dipicu oleh kondisi makroekonomi domestik yang kian terpuruk sepanjang tahun 2026. Melonjaknya harga minyak dunia berimbas pada jebloknya nilai tukar Rupiah yang sempat menyentuh angka psikologis Rp18.000 per dolar AS.
Dalam orasinya di atas mobil komando, perwakilan BEM SI melayangkan ultimatum keras selama 18 hari kepada pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Angka 18 hari dipilih sebagai simbol perlawanan terhadap angka kurs Rp18.000.
Jika pemerintah gagal menstabilkan harga pokok dan nilai tukar dalam tenggat waktu tersebut, mahasiswa mengancam akan melancarkan aksi gelombang kedua yang lebih besar dan melakukan penyegelan terhadap kantor Kementerian Keuangan.
Respons Cepat Petinggi Negara
Meredam tensi politik yang kian memanas, jajaran kepemimpinan nasional langsung mengeluarkan pernyataan resmi.
Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo menegaskan, personel gabungan akan mengawal jalannya aksi dengan pendekatan humanis namun tetap tegas. Ia meminta mahasiswa tidak terprovokasi dan menghindari pengrusakan fasilitas publik.
Senada dengan hal itu, Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) Herindra mengimbau masyarakat untuk tetap tenang dan menjaga persatuan guna menghindari gesekan yang dapat dimanfaatkan oleh oknum tidak bertanggung jawab.
Sementara dari pihak Istana, Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi menyatakan bahwa pemerintah menampung seluruh aspirasi tersebut. Namun, ia mengingatkan bahwa pemulihan ekonomi di tengah krisis global merupakan proses yang kompleks dan membutuhkan waktu.
Ring Satu Macet Total, Sentimen Pasar Wait and See
Dampak langsung dari aksi besar ini adalah lumpuhnya beberapa ruas jalan utama di Jakarta Protokol yang memicu kemacetan parah hingga malam hari.
Di sisi lain, para pakar ekonomi mengingatkan bahwa gaung “Reformasi Jilid 2” yang terlalu agresif dapat memicu sentimen negatif di pasar keuangan. Jika situasi keamanan memburuk, dikhawatirkan akan terjadi pelarian modal asing (capital outflow) besar-besaran yang justru akan membuat posisi Rupiah semakin tertekan.
Hingga berita ini diturunkan, ribuan aparat gabungan masih berjaga ketat di sekitar ring satu. Kendati situasi lalu lintas padat merayap, jalannya aksi unjuk rasa secara umum dilaporkan masih berjalan kondusif.
(Mhn/Red)









