Jakarta, MAHAGANEWS.COM – Pengelolaan tiket kapal penyeberangan di Pelabuhan Muara Angke, Jakarta Utara, kembali menjadi sorotan publik. Sistem penjualan tiket yang seharusnya berjalan transparan kini dihantam isu tak sedap terkait dugaan kelangkaan buatan dan praktik main belakang yang merugikan calon penumpang.
Di lapangan, sejumlah calon penumpang mengeluhkan sulitnya mendapatkan tiket penyeberangan melalui jalur resmi. Ironisnya, di saat loket atau aplikasi menyatakan tiket telah habis, tiket tersebut disinyalir masih bisa didapatkan melalui pihak-pihak tertentu. Kondisi ini memicu dugaan kuat adanya praktik percaloan atau ketidakberesan dalam alokasi kuota tiket penyeberangan.
Padahal, Dinas Perhubungan (Dishub) DKI Jakarta telah meluncurkan sistem pemesanan tiket berbasis elektronik bernama JaketBoat (Jakarta Electronic Ticketing Boat). Aplikasi ini dirancang untuk memudahkan warga memantau jadwal, memilih rute, mengecek ketersediaan kursi, hingga melakukan pembayaran secara digital demi menjamin transparansi. Namun, munculnya keluhan warga mengindikasikan adanya celah atau lemahnya pengawasan dalam penerapan sistem digital tersebut.
Upaya konfirmasi telah dilakukan untuk meminta klarifikasi terkait transparansi penjualan dan pengawasan ketersediaan tiket di lapangan. Namun, Kepala Unit Pengelola Angkutan Perairan (UPAP) Dishub DKI Jakarta, Afandi Nofrizal, memilih bungkam dan tidak memberikan jawaban saat dikonfirmasi melalui pesan WhatsApp.
Sikap tertutup dari pihak pengelola ini kian memperkuat keraguan publik terhadap komitmen Dishub DKI Jakarta dalam membenahi layanan transportasi perairan. Masyarakat mendesak adanya evaluasi menyeluruh serta audit terhadap sistem penjualan tiket di Pelabuhan Muara Angke agar hak-hak penumpang tidak terus dirugikan oleh permainan oknum yang tidak bertanggung jawab.







