6 Februari 2026

MAHAGANEWS.COM

Berpilar Fakta, Bergerak untuk Publik.

Musrenbang Mandau: Ketika Duri Mencari Jalan Bersih dari Tumpukan Sampah

Keterangan Foto: Bupati Bengkalis Kasmarni bersama jajaran Forkopimcam Mandau berdiri menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya saat membuka Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) Kecamatan Mandau Tahun 2025 di Gedung Bathin Betuah, Duri, Senin (10/2/2025). Kegiatan ini dihadiri unsur Forkopimda, Camat Mandau Riki Rihardi, pejabat OPD, serta perwakilan masyarakat, dengan isu penanganan sampah menjadi perhatian utama dalam pembahasan Musrenbang tahun ini. (Foto: Dokumentasi Mahaganews.com)

Mandau – Mahaganews.com |
Di balik gemuruh tepuk tangan Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) Kecamatan Mandau, ada satu suara yang tak kalah lantang: bau sampah yang menembus batas kenyamanan warga Duri. Dalam ruang berpendingin udara di Gedung Bathin Betuah, Bupati Bengkalis Kasmarni menegaskan — “Pembangunan yang tidak berpihak pada kebersihan dan kesehatan rakyat hanyalah pembangunan yang kehilangan maknanya.”

Sampah: Cermin Wajah Peradaban

Isu sampah di Duri bukan sekadar tumpukan benda mati di tepi jalan, melainkan potret dinamika sosial dan tata kelola yang tengah diuji. Volume sampah harian meningkat, lahan TPA mulai sesak, dan di beberapa titik, limbah mencemari kebun warga. Masyarakat menjerit, sementara petugas kebersihan berjibaku dalam keterbatasan fasilitas.

Dalam forum Musrenbang itu, Camat Mandau Riki Rihardi tak menutup mata. Ia memaparkan kebutuhan akan armada baru, perluasan TPA, dan inovasi teknologi pengelolaan sampah agar tidak sekadar diangkut lalu dibuang, melainkan bisa dimanfaatkan kembali sebagai energi atau kompos.
Langkah itu mendapat sambutan hangat dari Bupati Kasmarni, yang menegaskan pentingnya program kebersihan sebagai indikator keberhasilan pemerintahan daerah.

“Kebersihan bukan sekadar tugas petugas lapangan, melainkan cermin kesadaran kolektif kita sebagai masyarakat beradab,” tegas Bupati di hadapan hadirin.

Antara Retorika dan Realisasi

Setiap tahun Musrenbang hadir membawa janji. Namun, publik bertanya: berapa banyak janji yang benar-benar menjadi aksi?
Dalam catatan Mahaganews.com, sebagian usulan dari forum tahun sebelumnya masih tertunda — baik karena keterbatasan anggaran maupun koordinasi antarinstansi. Di sinilah Musrenbang tahun ini diuji: bukan pada jumlah usulan, tetapi pada kemampuan pemerintah daerah mewujudkan keberlanjutan.

Wakil Ketua DPRD Bengkalis, H. Misna, dalam sambutannya juga menekankan pentingnya sinkronisasi perencanaan antara eksekutif dan legislatif agar aspirasi masyarakat tidak berhenti di atas kertas.

“Kalau sampah masih berserakan di Duri, maka sebersih apa pun laporan keuangan kita, tetap saja rakyat melihatnya kotor,” ujarnya dengan nada reflektif.

Solusi: Dari Teknologi hingga Keteladanan

Pemerintah kecamatan telah mengusulkan penambahan sekitar 400 Tenaga Harian Lepas (THL) kebersihan untuk memperkuat armada lapangan. Namun, kebijakan teknis tanpa revolusi mental akan sulit bertahan lama.
Karena sejatinya, permasalahan sampah bukan hanya pada “siapa yang membuang”, tetapi “mengapa kita masih merasa wajar membuang sembarangan.”

Para pemerhati lingkungan menilai, pendekatan ekologis perlu disandingkan dengan pendekatan sosial. Edukasi publik, pengawasan digital melalui CCTV di titik rawan pembuangan, dan penegakan Perda menjadi tiga pilar penting. Dengan begitu, kebijakan pemerintah akan memiliki ruh keadilan ekologis.

Landasan Etika dan Hukum

Dari sisi hukum, kewajiban pemerintah daerah mengelola sampah termaktub jelas dalam UU Nomor 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah dan UU Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup.
Namun lebih dari sekadar aturan, isu ini adalah moral governance — ujian tanggung jawab antara pemerintah, masyarakat, dan dunia usaha.

Dalam konteks global, prinsip Right to a Clean Environment (Hak atas Lingkungan yang Bersih dan Sehat) sebagaimana diakui PBB menjadi pijakan etis bahwa kebersihan lingkungan bukan layanan tambahan, tetapi hak dasar warga negara.

Mencari Jalan Bersih

Musrenbang Mandau 2025 dapat menjadi momentum kebangkitan baru. Jika seluruh pihak menyadari bahwa pembangunan sejati dimulai dari halaman rumah yang bersih, maka Duri akan menjadi contoh bagi kota lain: kota kecil dengan kesadaran besar.

Karena sebagaimana dikatakan oleh seorang aktivis lingkungan lokal, “Sampah bukan musuh, ia hanya cermin dari cara kita memperlakukan bumi.”

Catatan Intelektual Redaksi Mahaganews

Musrenbang Mandau bukan sekadar forum perencanaan, melainkan cermin akuntabilitas moral pemerintahan daerah terhadap lingkungan dan kemanusiaan.

Duri memiliki potensi besar menjadi model kota hijau di tengah kawasan industri, jika tata kelola sampah dijadikan prioritas nyata, bukan wacana tahunan.

Kesadaran masyarakat harus dibangun bukan melalui sanksi semata, tetapi lewat pendidikan publik, keteladanan pejabat, dan kolaborasi lintas generasi.

Dalam konteks internasional, isu sampah lokal memiliki resonansi global — bagian dari Sustainable Development Goals (SDG 11 dan 12) tentang kota berkelanjutan dan konsumsi-produksi bertanggung jawab.

Penutup Spiritual

Allah SWT berfirman:

“Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi setelah Allah memperbaikinya.”
(QS. Al-A‘rāf: 56)

Maknanya: manusia diberi mandat untuk menjaga harmoni alam, bukan sekadar memanfaatkannya.

Dan Rasulullah SAW bersabda:

“Kebersihan adalah sebagian dari iman.”
(HR. Muslim)

Duri tidak butuh banyak slogan, cukup satu komitmen bersama: menjadikan kebersihan sebagai iman sosial dan pembangunan sebagai ibadah ekologis.


Penulis: Tim Redaksi Mahaganews.com
Editor: Junaidi Nasution
Foto: Dokumentasi Musrenbang Mandau 2025
Hak Cipta © 2025 Mahaganews.com