Proyek BBWS di Karawang Terus Jadi Sorotan

Karawang MAHAGANEWS.COM . Proyek proyek BBWS terus menjadi sorotan publik, termasuk dugaan asal asalan terkait pelaksanaan proyek normalisasi.Bahkan dugaan proyek proyek BBWS banyak disub kontrak kepihak rekanan pemborong diluar pemenang tender,sehingga menghasilkan pekerjaan yang bisa melenceng dari RAB.

Hasil pantauan dilapangan,proyek normalisasi sungai Cilamaya yang berlokasi di Desa Barugbug, Kecamatan Jatisari, Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat juga tidak lepas dari sorotan publik. Kegiatan proyek satu ini,selain soal pekerjaan yang diduga asal,dampak lingkungan, tidak dipasangnya papan nama proyek, kini soal K3 yang juga tidak dipatuhi pihak pemborong.

Bahkan akibat diabaikanya K3 ( Kesehatan dan Keselamatan Kerja ) sempat terjadi insiden pekerja tertimpa batu saat memasang bronjong dan mengalami putus urat dibagian kaki. Padahal K3 merupakan elemen penting yang harus disediakan perusahaan untuk melindungi pekerjanya. Atas dasar itulah kemudian penerapan K3 ditetapkan oleh pemerintah.

itu berarti pihak pemborong melanggar ketentuan sebagaimana diatur dalam ketentuan Veiligheidsreglement tahun 1919 (Stbl. No. 406) yang kemudian direvisi ke dalam Undang-Undang Nomor 14 tahun 1969 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok mengenai Pekerja.

Termasuk pelanggaran terhadap produk hukum yang mengatur tentang K3 di antaranya adalah UU No 1 Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja dan UU No 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan.

Muhammad Tirta atau kerenya dipanggil Itok, mengaku dirinya hanya pelaksana dilapangan, pemborongnya Bos Nizar. Soal papan nama proyek memang sengaja tidak dipasang, alasanya kuatir kalau nanti dipasang menimbulkan salah tafsir.

Karena kata Itok, proyek yang dianggarkan oleh BBWS sebesar Rp.10 milyar bukan dialokasikan untuk normalisasi di titik Barugbug saja, tapi ada 10 titik. Bahkan ia mengaku normalisasi di titik Barugbug sebenarnya tidak dalam perencanaan.

“Kalau nanti papan proyek dipasang, nanti takutnya salah asumsi bahwa anggaran Rp. 10 milyar hanya untuk Barugbug saja,” akunya.

Ia katakan, bahwa papan proyek sengaja disimpan di direksi kit. Terkait dengan keluhan warga soal dampak lingkungan kemungkinan akan diperhatikan, itu juga kalau pekerjaan sudah selesai.

Sementara mandor Menyan saat dimintai keterangan soal kecelakaan kerja membenarkan bahwa salah seorang pekerjanya mengalami luka akibat tertimpa batu dan urat kakinya putus.

” Ya kecelakaan, tapi sudah dibawa ke klinik dan diobati, mudah2an segera sehat,” katanya.

Ditempat terpisah, aktivis anti korupsi Herman Budi meminta kepada pihak Kepolisian dan Kejaksaan ikut mengawasi terkait dengan proyek proyek BBWS, jangan sampai nanti pelaksanaan proyek asal jadi, sehingga terjadi penyelewengan uang rakyat.

Jika dikorupsi sudah pasti berdampak pada kualitas hasil pembangunan, dan yang diuntungkan pihak pemborong atau pemenang tender yang seenaknya memanfaatkan uang rakyat untuk memperkaya diri sendiri.

” Apalagi dimasa pandemi begini, terlalu, kalau sampai uang rakyat dijadikan bancakan. Pelakunya harus di proses hukum, kalau perlu jika ditemukan ada korupsi terkait kegiatan yang dibiaya uang negara sebaiknya hukum mati dan dimiskinkan saja pelakunya,” cetusnya, Jumat (16/7/2021).

Rakyat sedang susah dan kesulitan memenuhi kehidupan dimasa pandemi jangan sampai ada pelaku pelaku korupsi yang seenaknya malah mencari keuntungan pribadi.

“Kami minta pihak Polisi dan Kejaksaan awasi proyek pemerintah, termasuk proyek BBWS,” pintanya.(UCI)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *