Masjid Besar Arafah Duri Datangkan Mubaligh Kondang Coco Lim

MahagaNews.com
Selasa (04 Mei 2021 )

Duri-Masjid Besar Arafah
04-Mei 05:30 WIB Dalam Tausyiah Nya Bertajuk Meraih Sukses Keberkahan Dunia Akhirat
Coco lim Berdakwa dengan Media Sulap tanpa Mantra Dengan Membakar Tisu Menjadi Uang Kertas 50 ribu Rupiah
Ustaz Koko Liem Kelahiran Dumai-Riau Mengatakan Mensyukuri Hidayah Allah
Hidayah-Nya sangat berarti dan telah menerangi jalan kehidupannya.

Mubaligh ini tidak seperti kebanyakan pendakwah lainnya yang telah menjadi Muslim sejak lahir. Ustaz Koko Liem melalui banyak rintangan dan tantangan sebelum memeluk Islam pada 1994 lalu.

Sejak saat itu, ia terus bergelut dalam dunia syiar Islam. Bahkan, dirinya didaulat menjadi pengasuh suatu pondok pesantren yang berfokus pada pembinaan kaum mualaf.’Ujar, Nya

Ustaz Koko Liem lahir pada 17 Januari 1979 di Dumai, Provinsi Riau. Kedua orang tuanya bersuku etnis Tionghoa, yakni Liem Guanho dan Laihua. Anak ketujuh dari 10 bersaudara itu sejak kecil diasuh dalam lingkungan yang cukup religius.

Coco Lim juga Mengatakan Kepada MahagaNews.Com Benar bahwa Termaksud
Ayahnya yang juga aktivis Klenteng selalu mengajarinya untuk taat beribadah. Kelak, ketegasan bapaknya itu menjadi salah satu faktor yang membuat keislaman dirinya tak mudah diterima keluarga, Nya .

Liem menghabiskan masa kecilnya di kota tempat kelahirannya itu. Masyarakat setempat mayoritas beragama Islam. Alhasil, sejak masa kanak-kanak dirinya cukup akrab dengan berbagai aspek ritual keislaman, seperti kumandang azan atau perayaan Idul Fitri dan Idul Adha. Ia pun memiliki banyak teman yang Muslim.

Saat diwawancarai MahagaNews.com ia Selalu mengenang, sejak masih duduk di bangku sekolah dasar (SD) ia sudah tertarik pada ajaran Islam. Apalagi, dalam soal ibadah dan sifat Tuhan. Waktu itu, dirinya sudah mengerti perbedaan mendasar antara Islam dan agama-agama lain. Agama yang berdasarkan ajaran Alquran dan sunnah Nabi Muhammad SAW itu menyembah hanya kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Ia mengaku, sejak kecil dirinya sudah merasa memiliki pemikiran yang berbeda daripada kebanyakan anggota keluarganya terkait masalah agama. Namun, saat itu ia tidak sampai pada taraf mendiskusikan atau mendebat keyakinannya kepada orang-orang terdekat.

 
Sejak kecil dirinya sudah merasa memiliki pemikiran yang berbeda daripada kebanyakan anggota keluarganya terkait masalah agama.
  
Lim Mengatakan, ‘
Keadaannya berubah sejak dirinya masuk sekolah menengah pertama (SMP). Liem mengatakan, waktu duduk di kelas dua SMP, ia mulai tertarik untuk selalu mengikuti mata pelajaran agama Islam di sekolahnya. Saat pelajaran tersebut akan dimulai, sang guru mempersilakan seluruh siswa yang beragama non-Islam untuk keluar kelas. Bukan berarti mengusir, tetapi hanya mereka diperkenankan untuk tidak mengikuti materi yang akan berlangsung.

Akan tetapi, Liem tidak mau beranjak dari tempat duduknya. Ia memilih tetap berada di kelas sembari terus menyimak pelajaran dari sang guru agama Islam. Lama kelamaan, hal itu sudah menjadi kebiasaannya. Bahkan, ia merasa saat itu sangat antusias begitu mendengarkan kisah-kisah tentang para nabi dalam Agama Islam

Liem pun mengenang saat pertama kali mengikuti penuturan tentang kisah Nabi Ibrahim kala mencari Tuhan. Sungguh, cerita itu sangat mengagumkan baginya. Keberanian Sang Khalilullah untuk menyatakan kebenaran di hadapan ayahnya sendiri –yang merupakan penyembah berhala– meninggalkan kesan mendalam bagi diri Liem muda.

“Saya berpikir, rasa-rasanya kisahnya Nabi Ibrahim hampir mirip dengan saya. Sebab, ayah saya seorang penyembah berhala,” ujar Ustaz Koko Liem .

Disamping Sebagai Mubaligh Beliau Hafizd Al-Qur’an Nul Karim 30 Juz Yang Di Tekuninya Yang berada Di Salah Satu Pesantren Di Banten

Demikian Pula Coco Lim Dalam Syiar Dakwahnya dia juga Menulis Buku Yang berjudul Meraih Berkah ,Sehingga Para Jama’ah Mesjid Besar Arafah Banyak yang tertarik dan Memahari Buku Yang Di Tulis Coco Lim Tersebut.

(J. Nst)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *