Ahmadi Sembiring, “Disamping Bercocok Tanam, Dengan Beternak Lebah Madu Juga Dapat Menambah Penghasilan”

Ket foto : Ahmadi Sembiring Milala warga pengungsi sinabung asal Desa Berastepu seorang Peternak Lebah saat sedang memanen madu dilahan perkebunan miliknya.

Tanah Karo | Budidaya lebah madu dengan nama ilmiah Apis cerana ini bisa menjadi pilihan yang menjanjikan sebagai sumber  penghasilan tambahan dan bisa dilakukan sambil menjalankan rutinitas berkebun atau bertani. Tentunya harus didasari dengan niat serta  kemauan masyarakatnya.

Dilihat dari tekstur alam dan iklim di dataran tinggi tanah karo, potensi usaha berternak lebah penghasil madu ini ternyata sangat cocok untuk dibudidayakan serta dikembangkan.

Disamping itu, tekhnik pembudidayaan lebah ini pun tergolong mudah serta tidak memerlukan modal yang besar. Hewan ternak jenis ini memiliki beberapa kelebihan dan manfaatnya bagi kesehatan tubuh manusia yang membuatnya layak untuk dipilih sebagai sumber penghasilan tambahan.

Kelebihan serta manfaat budidaya lebah madu, kita bisa memanfaatkan limbah kayu seperti papan bekas bangunan dan limbah kayu aren ataupun limbah pohon kelapa sebagai media penangkarannya. Sifat alami lebah yang mencari pakan sendiri sehingga tidak membutuhkan modal pakan yang dapat menguras kantong.

Hal itu sudah terbukti dari hasil amatan awak media dibeberapa daerah di kab karo, sudah ada beberapa orang peternak lebah yang berhasil meraup keuntungan dari hasil penjualan madu asli.

Sebagai contoh Ahmadi sembiring milala (45) warga pengungsi sinabung asal Dusun Sibintun, Desa Berastepu, Kec.Simpang empat, Kab.karo yang  berhasil ditemui awak media di lokasi lahan pertanian miliknya, di lahan pertanian itu juga dirinya membuat puluhan kotak penangkaran pembudidayaan ternak lebah penghasil madu dengan menerapkan sistem/metode tumpang sari.

Dilahan tempatnya bercocok tanam tersebut luasnya lebih kurang 5000m2,  disamping menanam jenis tanaman muda seperti sayur mayur, cabai dan kopi, dirinya juga memasang tempat (wadah) penangkaran lebah dibeberapa titik lokasi yang di perkirakan mencapai 40 kotak (wadah) disebar diberbagai titik.

Ahmadi menjelaskan , “pasca terjadinya bencana erupsi gunung sinabung yang meluluhlantakkan lahan pertanian dan rumah tempat tinggal kami, selain berkebun saya juga mulai menekuni pekerjaan beternak lebah sebagai tambahan penghasilan dalam memenuhi kebutuhan hidup keluarga serta kebutuhan sekolah anak anak,” Ujar Ahmadi

Saat ditanya kendala apa saja yang dihadapi selama menekuni pekerjaan beternak lebah, ahmadi menyebut kendalanya hanya dibagian pemasaran madu hasil dari beternak lebah. 

“Kendala yang dihadapi adalah masalah pemasaran madu, selama ini produk madu yang dihasilkan hanya dijual dilokasi penangkaran itupun kalau ada tamu yang berkunjung kelokasi dan jujur saya belum mengerti kiat untuk memasarkan keluar daerah. Semoga dalam hal pemasaran madu ini ada perhatian dari pemerintah daerah kabupaten karo dan bila dibutuhkan apabila ada masyarakat yang ingin berternak lebah sebagai usaha sampingan, saya juga  siap mensosialisasikan bagaimana cara budidaya lebah penghasil madu kepada warga lainnya,” Terang Ahmadi

Masih menurut Ahmadi, “sebagai peternak lebah, pada prinsipnya disamping ketekunan, peternak juga dituntut harus jujur dan iklhas. Karna apabila syarat tersebut kita ingkari maka dapat barakibat fatal,”ungkapnya

Dirinya juga menambahkan, “selain dapat menghasilkan madu, sengatan lebah juga dapat berkhasiat untuk mengobati berbagai macam penyakit dikarnakan racun dari  cairan lebah  bersifat asam yang tidak berwarna. Sehingga lebah akan mengeluarkan racun saat dirinya merasa terancam. Racun lebah mengandung zat kimia yang memiliki efek antiradang dan terdiri dari enzim, gula, mineral, dan asam amino. Senyawa-senyawa tersebut diduga dapat dijadikan pengobatan alternatif seperti terapy untuk mengurangi rasa nyeri dan mempercepat penyembuhan sejumlah penyakit tertentu yang dapat meredakan rasa nyeri, meringankan gejala radang sendi atau rematik, mengatur fungsi kelenjar tiroid dan dapat mengobati beberapa penyakit sistem saraf dan sistem kekebalan tubuh.” Beber Ahmadi Sembiring

(Daris Kaban)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *