Kisruh Antara Ka.Pus Berastagi Dengan 35 Pegawainya, “Kami Mau Melayani & Bekerja Seperti Biasa, Asalkan tidak lagi Dibawah Kepemimpinan dr Rehmenda”

TANAH KARO|
Menyikapi terkait kekisruhan yang terjadi antara 35 pegawai/tim medis yang bertugas di puskesmas berastagi dengan dr Rehmenda Br Sembiring yang menjabat sebagai Kepala  Puskesmas (Kapus) Berastagi, hingga saat ini masih jalan ditempat dan belum juga tuntas.

Permasalahan tersebut muncul, ditenggarai karna sejumlah kebijakan yang dibuat oknum kepala puskesmas yang dirasa sejumlah pegawai tidak nyamanan dalam bekerja dibawah kepemimpinan dr Rehmenda Br Sembiring selaku Ka.Puskesmas Berastagi.

Hal itu mencuat saat ke 35 pegawai tersebut melaporkan kejadian yang mereka alami ke pimpinan Komisi A DPRD Kab Karo, pada tanggal 17 juni 2020 yang lalu.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Karo drg Irna Safrina Sembiring Meliala saat diminta tanggapannya dalam upayanya menyikapi permasalahan yang ada, dirinya mengaku,

“Sudah 2(dua) kali saya memanggil Kepala Puskesmas (Kapus) Berastagi, membahas hal ini dan telah melakukan rapat kerja dengan dewan, saya juga sedang mendalami kasus ini sebagai kepala dinas saya akan tetap mengedepankan pelayanan kepada masyarakat agar pelayanan terhadap masyarakat busa tetap optimal,” ujar Irna

Ketika ditanya, apakah sudah pernah mengundang ke dua belah pihak untuk duduk bersama mencari solusi  terbaik dalam penyelesaian masalah yang ada, kepada awak media drg Irna Safrina S Milala Kadis Kesehatan Kab.Karo mengatakan,

“Sudah kita upayakan juga memediasi, namun setiap saya undang 35 pegawai tim medis itu tidak mau, kalau bertemu dengan Ka.pus nya. Alasannya,  “kami mau melayani dan bekerja seperti biasa, asalkan tidak lagi dibawah kepemimpinan dr Rehmenda”, begitu dibilang mereka ke saya,” Jelas Kadis, menirukan ungkapan ke 35 pegawai medis puskesmas berastagi.

“Maka dari itu, hasil dari tanya jawab saya dengan 35 pegawai dan Kepala puskesmas berastagi akan saya sampaikan ke Bapak Bupati. Karna terkait kewenangan ada pada beliau, saya tidak ada hak untuk membuat keputusan dalam masalah ini.” Beber drg Irna Safrina S Milala, mengahiri.

(Daris)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *