Terjerat Pasal 351 KUHP, Istri Camat Kuta Buluh Di Cari Personil Reskrim Polsek Delitua

Ket foto: Gambar Ilustrasi

TANAHKARO|MAHAGANEWS.COM
Diduga karna cemburu buta, M Br Barus (47) warga Kabanjahe tega melakukan tindakan penganiyaan terhadap korban seorang ibu rumah tangga berinisial M br Bangun (50) perempuan, warga Jl.Pinus raya, link Xlll, Prumnas Simalingkar, Kel, Mangga, Medan Tuntungan. 

Hal itu diketahui berdasarkan surat laporan tanda terima pengaduan (SLTTP) yang dikeluarkan Polsek delitua dengan nomor : SLTTP/lll 9/Vlll/2019/SPKT/SEKTA DELTA Pada hari Jumat,(23/08/2019) pukul 16:00 Wib

Dalam surat laporan pengaduan tersebut menyebutkan, telah terjadi tindakan penganiyaan yang dilakukan oleh M br Barus (47) perempuan, warga kaban jahe, Kab.Karo, dan diketahui sebagai istri seorang oknum camat yang saat ini menjabat di Kecamatan Kuta buluh, Kab.karo.

Menurut informasi dari korban M br Bangun(50) saat diminta keterangan oleh awak media melalui sambungan telepon membenarkan prihal tersebut, 

“Ya benar, tanpa saya ketahui sebabnya tiba-tiba saya diserang istri josua sebayang yang saat ini menjabat sebagai camat kuta buluh. Saat itu saya sedang berjualan dipajak simalingkar, tanpa basa basi M br Barus (pelaku) datang ke kios saya dan lansung menyiramkan air gilingan cabai ke sekujur tubuh saya dan tak hanya sampai disitu saja , saat saya merasa perih di sekitar mata seketika itu juga tubuh saya ditendang dan di injak-injak oleh pelaku,” ujarnya

Ditanya terkait alasan apa dirinya disiram dan di aniyaya oleh M br Barus (pelaku) penganiyaan, M Br Bangun (korban) mengaku awalnya ia bersama suami pelaku tergabung di salahasatu grup media sosial watshaap yang ber anggotakan para sahabat alumni SMA Negeri Berastagi, angkatan tahun 88/89, berhubung dirinya masih setahun dibawah angkatan dengan Suami pelaku dan sering berkomunikasi di percakapan grup wa alumni tersebut, M br Barus istri si camat ini tidak terima, sehingga pelaku langsung mendatangi saya ketempat saya berjualan dan menyerang saya dan ada sekitar 4 (orang) lagi teman teman saya se alumni yang di perlakukan sama seperti yang saya alami,” jelas korban 

Setelah kejadian itu , saya langsung melakukan visum ke rumah sakit, setelah hasil visum menyatakan ada gangguan di bagian perut karna di pijak dan ditendang, luka cakar berdarah dimuka yang saya alami. Akibat perbuatan kekerasan yang dilakukan terhadap saya, sehingga atas permintaan keluarga,  saya melaporkan M Br Barus (pelaku) ke Polsek Delitua,” terang br bangun

Dijelaskan lagi, “kejadian pilu yang dialaminya terjadi dibulan agustus 2019, dengan melalui  proses panjang dalam menuntut  keadilan untuk penuntasan kasus ini dan sudah hampir setahun ditangani polsek delitua, baru dibulan juni 2020 surat perintah penangkapan (SPP) terhadap M br Barus (pelaku) penganiyaan terhadap dirinya diterbitkan oleh kepolisian sektor delitua,” katanya 

“Walau surat perintah penangkapan sudah dikeluarkan terhitung sejak hari senin tanggal 22 juni 2020, tapi hingga saat ini pelaku belum juga dapat diamankan oleh personil polsek delitua, padahal keberadaan pelaku sudah diketahui saat ini ada di kabanjahe tanah karo dan jelas terpantau sering mengikuti suami pelaku ke kantornya yang berada di kantor camat kuta buluh, namun pihak kepolisian belum juga dapat menangkap pelaku, sudah 3 x personil polsek delitua ke tanah karo untuk melakukan upaya penangkapan terhadap pelaku namun selalu gagal , saya menduga telah dibocorkan, sehingga M br barus dan suaminya J sebayang, kerap berpindah pindah tempat dan jarang pulang kerumah kata anak-anaknya. Dan herannya pihak polsek delitua enngan berkordinasi dengan pihak kepolisian polres tanah karo untuk bekerja sama menangkap pelaku,” ungkap br bangun

Seharusnya selaku istri pejabat camat dan selaku ketua PKK di kecamatan, M Br Barus (Pelaku) bisa koperatif dan berani mempertanggung jawabkan perbuatannya di depan hukum, bukan harus lari meninggalkan masalah. Kalau dalam minggu ini pelaku belum juga dapat diamankan pihak kepolisian sektor delitua, rencananya saya dan 5(lima) orang lagi teman alumni SMA N Berastagi yang mengalami hal yang sama dengan yang saya alami, diantaranya ada ibuk N br Ginting, S br prangin angin, S br Bangun dan D br sinukaban. Bersama mereka saya akan menghadap ke Bupati Karo dan juga ke Ibu Wakil Bupati Karo untuk menceritakan persoalan ini, dan meminta keadilan.”Bebernya kesal sambil mengahiri pembicaraan

(Eva)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *