Aksi Perambahan Hutan Lindung “Marak” Di Kabupaten Karo, Aparat Jangan Tutup Mata !!

Ket foto : Aksi  penebangan kayu dan perambahan hutan kian marak di kawasan hutan lindung di Siosar, Kec.Merek, Kab.Karo, Provinsi Sumut.

KARO|MAHAGANEWS.COM

Walau kabupaten karo sudah ditetapkan zona merah penyebaran Virus Disease ( Covid 19 ). Aksi  penebangan kayu di kawasan hutan lindung di Siosar kian marak. Aktifitas perambahan hutan terendus wartawan bersama Pecinta motor trail  Xtrim tanah karo, pada Sabtu ( 30/5) lalu 


Salah satu Anggota Pecinta Motor Trail Xtrim ini melihat adanya kegiatan penebangan kayu tak berizin/ ilegal terjadi dikawasan Hutan lindung Siosar, Kecamatan Merek, Kabupaten Karo
Penebangan kayu hatan lindung itu terlihat dilakukan secara tebang pilih, jelas terlihat kayu -kayu besar yang ditafsir berusia puluhan tahun itu tumbang dan berserakan di tengah hutan. 


Ada juga yang sudah di jadikan papan dan di biarkan begitu saja. Sayangnya saat awak media dan tim menuju lokasi,  aktifitas penebangan sepertinya sudah terhenti dan tidak menemukan satu orang pun warga atau pelaku penebang kayu yang tampak dilokasi. Diduga para pelaku perambah hutan tersebut bersembunyi ke tempat lain.

Menurut salah satu anggota Pecinta Motor Trail Xtrim TK yang saat itu ikut ke lapangan Monang Pulungan mengatakan, 


“Jangan sampai hutan Siosar ini kasusnya sama seperti di jalan Jahe,( Dalan Jahe merupakan Hutan Lindung yang kayunya sudah habis di tebangi secara Ilegal ) yang hanya mementingkan kepentingan individu saja, namun dampak buruknya berefek bagi masyarakat luas khususnya di Tanah Karo,”ujarnya. 

Ia menambahkan, “masih banyak saya lihat penebangan kayu secara ilegal yang dilakukan oknum-oknum yang tidak bertanggubg jawab di Tanah Karo ini. Namun ada juga yang sudah di proses hukum karena tertangkap tangan, tapi prosesnya setahu saya masih ada menggantung. Banyak lah titik-titik lain yang saya lihat saat ber Trail ketika saat kegiatan pembalakan hutan yang liar”, Ungkapnya

Saya berharap agar  Aparat penegak hukum beserta pihak Dinas Kehutanan dan Pemerintah Desa setempat lebih peka terhadap kelestarian alam. Agar kiranya sama sama menjaga demi kelsetarian sumber daya alam kita dan menjauhkan dari ancaman bencana alam yang sewaktu-waktu dapat mengancam keselamatan jiwa kita bersama. Karena kita tau hutan Indonesia merupakan kekayaan alam yang luar biasa dan hal itu diakui juga oleh dunia internasional dan tak ternilai harganya sebagai anugrah Tuhan Yang Maha Esa kepada bangsa Indonesia.” Beber Monang Pulungan

Di tempat berbeda, awak media mencoba meminta tanggapan Daris Kaban yang menjabat sebagai Ketua Wahana Lingkungan Alam Nusantara (Walantara) Kab.Karo. Mengecam keras aksi penebangan kayu di kawasan hutan lindung siosar, pihaknya menegaskan, 

“Kami dan segenap jajaran pengurus DPD Walantara Kab.Karo sangat prihatin dan miris mengetahui adanya aksi perambahan hutan di kawasan hutan lindung siosar. Hal ini bisa terjadi efek lemahnya pengawasan dari pihak Kepolisian Polres Tanah Karo dan instansi terkait lainnya. Saya menduga ada oknum-oknum dari Dinas Kehutanan setempat serta aparat penegak hukum yang sudah main mata  dengan para mavia kayu serta warga masyarakat yang ingin menguasai lahan hutan untuk di alih fungsikan menjadi lahan pertanian dan lain sebagainya.” Kata Daris Kesal

Sambungnya lagi, “Hal ini tidak bisa bisa dibiarkan, kami bersama rekan-rekan akan berupaya memonitoring kawasan hutan khususnya di siosar dan dikawasan hutan yang dianggap rawan aksi pencurian kayu. Apabila kami mengetahui dan mendapati ada oknum yang sengaja membawa keluar kayu-kayu tersebut, akan kami tindak lanjuti dan tidak segan-segan melaporkannya ke pihak yang berwajib untuk ditindak tegas sesuai aturan dan perundang undangan yang berlaku!.” Tegasnya

“Dalam waktu dekat DPD Walantara Kab.Karo akan melayangkan surat ke Bapak Kapoldasu, Ke Bapak Bupati Karo dan ke Kapolres Tanah Karo dan juga akan membuat tembusan ke Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI di Jakarta. Agar terkait persoalan maraknya aksi perambahan hutan di Kab.Karo ahir-ahir ini bisa menjadi perhatian serius oleh seluruh pihak dan menjadi atensi oleh Pemerintah pusat,”jelasnya

“Sudah saatnya DPD Walantara Karo Menguji ketaajaman taji para aparat penegak hukum m terkait temuan ini, beranikah mereka membuat tindakan tegas terhadap pelaku-pelaku perusak habitat Hutan.? Toh kalau laporan ini tidak ditanggapi berarti ada apa dengan mereka ??

Karna kalau kegiatan ini dibiarkan terus menerus dapat berdampak buruk terhadap lingkungan alam sekitar kita. Dan dikhawatirkan bencana alam sewaktu waktu dapat mengancam keselamatan jiwa kita.” Beber Daris

Jelas disebutkan pada  Pasal 33 ayat (3) UUD Negara Republik Indonesia Tahun 1945 mengamanatkan bahwa bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh Negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. 

Oleh karenanya, hutan dengan berbagai fungsinya harus dimanfaatkan secara terencana, rasional, optimal, dan bertanggung jawab sesuai dengan kemampuan daya dukungnya, serta dengan memperhatikan kelestarian fungsi dan keseimbangan lingkungan hidup guna mendukung pengelolaan hutan dan pembangunan kehutanan yang berkelanjutan. 

Padahal bila disadari aksi pembalakan liar adalah bentuk penyimpangan dari pemanfaatan hutan yang seharusnya. Akibat pembalakan liar, hutan tidak lagi dapat memberikan manfaat yang sebesar-besarnya bagi kemakmuran rakyat. Karna pembalakan liar tersebut dapat menjadi ancaman terhadap kepunahan fungsi ekologi hutan tropis di Indonesia.” Beber Daris

Kepala Desa Suka Meriah Jani Ginting yang desa nya di terletak di sekitar Hutan Lindung Siosar saat di konfirmasi pada Selasa ( 09/06 ) sekira pukul 15.36 WIB juga mengatakan, 

“Kami sering melihat aktivitas kenderaan pengangkut kayu beroprasi dan melintas didesa kami sekitar tengah malam. Namun kami biarkan saja karena kami tidak tahu itu kepentingan siapa. Berizin atau tidak, kami kurang paham juga. Namun setahu saya hutan itu masih dalam kawasan hutan lindung,” katanya. 

“Aktifitas penebangan kayu ini sebenarnya sudah lama namun dalam dua bulan terakhir ini lah yang terlihat sering keluar masuk kendaraan membawa hasil kayu hutan. Baik itu kayu yang sudah sudah jadi maupun kayu yang masih berbentuk gelondongan.”ujar Kades. 

(Riswan Sembiring)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *